Home > Artikel > SAREKAT ISLAM: GERAKAN AWAL NASIONAL-RELIGIUS DI INDONESIA

SAREKAT ISLAM: GERAKAN AWAL NASIONAL-RELIGIUS DI INDONESIA

Oleh: Yudi Setianto

(Widyaiswara di PPPPTK PKn-IPS)

 

Pergolakan masyarakat sebagai akibat perubahan sosial yang cepat membangkitkan kesadaran kaum pribumi yang bermula secara perorangan kemudian meluas di kalangan rakyat pribumi. Tiga tahun setelah berdirinya Budi Utomo, pada tahun 1911 berdirilah organisasi yang disebut Sarekat Islam. Latar belakang ekonomis perkumpulan ini sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi pedagang (pedagang penyalur) orang-orang Cina. Hal ini juga sebagai isyarat bahwa golongan muslim sudah saatnya menunjukkan kemampuannya. Para pendiri Sarekat Islam tidak semata-mata mengadakan perlawanan terhadap pedagang Cina, tetapi juga sebagai front melawan semua penghinaan terhadap rakyat pribumi serta reaksi adanya politik kristenisasi dari kaum zending (Nugroho Notosusanto, 1975:187).

Atas prakarsa K.H Samanhudi seorang saudagar batik dari Laweyan, Solo berdirilah Sarekat Dagang Islam yang pada awalnya anggotanya para pedagang batik di kota Solo. Tujuannya untuk memperkuat persatuan sesama pedagang batik dalam menghadapi persaingan dengan pedagang Cina yang menjadi agen-agen bahan-bahan batik. Para pengusaha tersebut umumnya beragama Islam sehingga organisasi tersebut bernama Sarekat Dagang Islam.

Sarekat Dagang Islam mengalami kemajuan pesat karena dapat mengakomodasi kepentingan rakyat biasa. Rakyat di pedesaan mengganggap bahwa SI sebagai alat untuk membela diri melawan struktur kekuasaan lokal dari pada gerakan politik modern. Oleh sebab itu, organisasi ini menjadi lambang persatuan bagi masyarakat yang tidak suka dengan orang-orang Cina,pejabat-pejabat priyayi dan orang-orang Belanda (Ricklefs, 1991:253).

Di Solo, gerakan nasionalistis-demokratis- religius-ekonomis ini berdampak pada permusuhan antara rakyat biasa dengan kaum pedagang Cina, sehingga sering terjadi bentrok diantara mereka. Pemerintah Hindia Belanda semakin khawatir dengan gerakan radikal ini karena berpotensi menjadi gerakan melawan pemerintah. Hal ini menyebabkan Sarekat Dagang Islam pada tanggal 12 Agustus 1912 diskors oleh residen Surakarta dengan larangan untuk menerima anggota baru dan larangan mengadakan rapat. Karena tidak ada bukti untuk melakukan gerakan anti pemerintih maka tanggal 26 Agustus 1912 skors tersebut dicabut (Pringgodgdo, 1984: 4-5).

Atas usul dari H.O.S Cokroaminoto pada tanggal 10 September 1912 Sarekat Dagang Islam berubah menjadi Sarekat Islam. K.H Samanhudi diangkat sebagai ketua Pengurus Besar SI yang pertama dan H.O.S Cokroaminoto sebagai komisaris. Setelah menjadi SI sifat gerakan menjadi lebih luas karena tidak dibatasi keanggotaannya pada kaum pedagang saja. Dalam Anggaran Dasar (statuten) tertanggal 10 September 1912, tujuan perkumpulan ini diperluas ,antara lain:

1)    Memajukan perdagangan

2)    Memberi pertolongan kepada anggota yang mengalami kesukaran (semacam usaha koperasi)

3)    Memajukan kecerdasan rakyat dan hidup menurut perintah agama

4)    Memajukan agama Islam serta menghilangkan faham- faham yang keliru tentang agama Islam

Program yang baru tersebut masih mempertahankan tujuan lama yaitu dalam bidang perdagangan namun tampak terlihat perluasan ruang gerak yang tidak membatasi pada keanggotaan para pedagang tetapi terbuka bagi semua masyarakat. Tujuan politik tidak tercantumkan karena pemerintah masih melarang adanya partai politik. Perluasan keanggotaan tersebut menyebabkan dalam waktu relatif singkat keanggotaan SI meningkat drastis. Gubernur Jenderal Idenburg dengan hati-hati mendukung SI dan pada tahun 1913 Idenburg memberi pengakuan resmi kepada SI meski banyak pejabat Hindia Belanda menentang kebijakannya. Namun pengakuan tersebut sebatas suatu kumpulan cabang-cabang yang otonom, bukan sebagai organisasi nasional yang dikendalikan oleh markas besarnya CSI /Central Sarekat Islam ( Ricklefs, 1991: 253).

SI mengadakan kongres I di Surabaya pada tanggal 26 Januari 1913. Konggres yang dipimpin oleh H.O.S Cokroaminoto antara lain mejelaskan bahwa SI bukan sebagai partai politik dan tidak beraksi untuk melakukan pergerakan secara radikal melawan pemerintah Hindia Belanda. Meskipun demikian, asas Islam yang dijadikan prinsip organisasi menjadikan SI sebagai simbol persatuan rakyat yang mayoritas memeluk Islam serta adanya kemauan untuk mempertinggi martabat atau derajat rakyat. Cabang-cabang SI telah tersebar di seluruh pulau Jawa dengan jumlah anggota yang sangat banyak.

Kongres SI II diadakan di Solo tahun 1914, yang memutuskan antara lain bahwa keanggotaan SI terbuka bagi seluruh rakyat Indonesia dan membatasi keanggotaan dari golongan pagawai Pangreh Praja. Tindakan ini sebagai cara untuk memperkuat identitas dan citra bahwa SI sebagai organisasi rakyat. Pemerintah Hindia Belanda tidak suka melihat kekuatan SI yang begitu besar dan bersikap berani. Untuk membatasi kekuatan SI, pemerintah menetapkan peraturan pada tanggal 30 Juni 1913 bahwa cabang-cabang SI harus bersikap otonom atau mandiri untuk daerahnya masing-masing. Setelah terbentuk SI saerah berjumlah lebih dari 50 cabang, pada tahun 1915 SI mendirikan CSI (Central Sarekat Islam) di Surabaya. Tujuan didirikannya CSI adalah dalam rangka memajukan dan membantu SI di daerah serta mengadakan hubungan antara cabang-cabang SI.

Kongres III SI diadakan di kota Bandung pada tanggal 17-24 Juni 1916. Konggres yang dipimpin H.O.S Cokroaminoto tersebut bernama Kongres Nasional Sarekat Islam pertama, yang dihadiri hampir 80 SI daerah. Dicantumkannya kata “nasional” dalam kongres tersebut dimaksudkan, bahwa SI menuju kearah persatuan yang teguh dan semua golongan atau tingkatan masyarakat merasa sebagai satu bangsa/ nation.

Kongres Nasional SI kedua dilaksanakan di Jakarta pada tanggal 20-27 Oktober 1917. Dalam kongres tersebut menyetujui bahwa CSI tetap dalam garis parlementer-evolusioner meskipun lebih berani bersikap kritis terhadap pemerintah. Pada tahun 1918, SI   mengirimkan wakilnya ke Volksraad yaitu Abdul Muis(dipilih) dan H.O.S Cokroaminoto (diangkat). Dalam sidang Volksraad, H.O.S Cokroaminoto mengusulkan agar lembaga tersebut menuju pada status dan fungsi parlemen yang sesungguhnya.

Pada tahun 1914 tokoh sosialis, Semaun melakukan infiltrasi ke SI dengan cara masuk menjadi anggota SI cabang Surabaya kemudian tahun 1916 ia pindah ke Semarang dan bertemu dengan tokoh sosialis dari Belanda, , Sneevliet yang menjadi pelopor berdirinya ISDV. Pengaruh kiri di dalam SI semakin besar karena Semaun juga aktif sebagai anggota ISDV (Indische Social- Democratishe Vereniging= Perserikatan Sosial Demokrat Hindia Belanda) yang berusaha menjadikan rakyat sebagai landasan perjuangan. SI cabang Semarang berkembang pesat dan dibawah pengaruh Semaun, SI Semarang bersikap anti-kapitalis secara radikal.

Dengan keberadaan wakil SI di Volksraad yaitu H.O.S Cokroaminoto dan Abdul Muis, menunjukkan bahwa SI menempuh jalur ko-operative. Hal ini ditentang kaum kiri dalam SI bahkan Semaun melakukan kritik keras terhadap  kepimimpinan CSI (Central Sarekat Islam). SI dibawah kepemimpinan Semaun dan Darsono mempelopori perjuangan SI melawan imperalis secara radikal dengan menggunakan teori perjuangan Karl Marx atau paham komunis. Akibat infiltrasi paham komunis di SI maka organisasi tersebut terdapat dua aliran yaitu:

1). SI Putih ,yang tetap mempertahankan dasar agama Islam dibawah pimpinan H.O.S Cokroaminoto dan Agus Salim

2). SI Merah, yang bersifat ekonomis dogmatis dengan yang dipimpin Semaun dan Darsono

Pertentangan antara dua aliran tersebut tidak mungkin disatukan sehingga SI menuju kearah perpecahan. Dalam rangka membersihkan dari unsur-unsur komunis, SI mengambil kebijakan tegas untuk menegakkan disiplin partai sehingga Semaun dan kelompoknya dikeluarkan dari keanggotaan SI. SI Merah yang dipimpin Semaun berubah namanya menjadi Sarekat Rakyat yang pada akhirnya menjadi organisasi sayap dari PKI. Sementara itu,pada tahun 1923 CSI (Central Sarekat Islam) merubah namanya menjadi PSI (Partai Sarekat Islam).

Daftar Pustaka

A.K Pringgodigdo,1984: Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia: Jakarta: Dian Rakyat

Akira Nagazumi, 1989: Bangkitnya Nassionalisme Indonesia, Budi Utomo 1908-1918. Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti

M.C Ricklefs,1991: Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gadjah Mada Press

Nugroho Notosusanto, 1975. Sejarah Nasional Indonesia V. Jakarta: Balai Pustaka

——————————,1977.Sejarah Nasional Indonesia VI. Jakarta: Balai Pustaka

S. Nasution, 1995. Sejarah Pendidikan Indonesia. Jakarta: Bina Aksara

Sartono Kartodirdjo, 1993. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional, dari Kolonialisme sampai Nasionalisme Jilid II. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Categories: Artikel
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: